Bismillah...
Seperti berjalan di kelabu abu, tak terlihat sepintas pun jalan lurus ke depan. Tak karuanku berjalan di tengah rimbunnya pepohonan menghalangiku berjalan, berliuk-liuk tak karuan hanya saja aku tak mau terkena duri-duri batang yang tiba-tiba tertancap di salah satu tubuhku. Tak memikirkan jalan lurus ke depan. Mengabaikan semuanya, terus berjalan tak kenal arah mengandalkan indra perabaku yang masih bisa berfungsi.
Seperti berjalan di kelabu abu, tak terlihat sepintas pun jalan lurus ke depan. Tak karuanku berjalan di tengah rimbunnya pepohonan menghalangiku berjalan, berliuk-liuk tak karuan hanya saja aku tak mau terkena duri-duri batang yang tiba-tiba tertancap di salah satu tubuhku. Tak memikirkan jalan lurus ke depan. Mengabaikan semuanya, terus berjalan tak kenal arah mengandalkan indra perabaku yang masih bisa berfungsi.
Detik demi detik ku lewati, dalam hati ini
telah berbisik "segera mencari jalan keluar" Tetapi ketika dalam
tubuh ini perlahan menutup pintu hati. Jiwa ini tak dapat terkendalikan, ketika
sebuah kekuasaan menguasainya. Hanya kekokohan iman yang dapat menarik kembali
pintu hati itu untuk segera terbuka. Melawan bersama keyakinan yang kokoh
kepadaNya.
Terbengkalai, hari demi hari terlewat.
Hanya berfikir tetap berdiam di sana berjalan meliuk-liuk seperti ular tak
berbisa. Berpikir agar tak terluka sedikit pun menginginkan tetap kokoh di sana
walaupun rerumputan, pepohonan dan serangga-serangga kecil tak menyukainya.
Walaupun kulit ini terbeset oleh batang-batang tajam hingga merobek kulit, tetap
tak mau meninggalkannya. Walaupun mahkluk lain telah tersakiti terhadap perbuatannya,
tetap tak kan hilang.
Tetapi suatu ketika kelabu itu hilang begitu saja. Aku melihat dua
jalan, jalan lurus dan jalan berliuk ke kanan dan ke kiri. Keraguan masih
tertanam, hati ini berusaha mencabutnya tetapi nafsu menghalang. Tetapi mungkin
aku melihat bayangan putih dari kejauhan, mataku yang tak mampu melihat jelas
kembali ragu. Cahaya putih itu pun mendekat, semakin mendekat. Memberiku
jahitan halus terhadap robekan kulit, putihku. Permanen tak kan pernah
terlepas. Ikatan tali yang memberinya jalan lurus pilihan akhirnya.
Cinta yang semestinya memberi jalan tegak malah menjadikan jalan
itu patah berkelok, tak semestinya untuk terus mengikuti.
Cinta yang lurus tak dapat di rasa.
Cinta yang sesungguhnya adalah Cinta kepadaNya.
Note : SukaSuka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar